![]() |
Jalan kenangan |
Kemarin, saya ada acara halal bihalal dan arisan keluarga besar di pinggiran Kota Malang.Kebetulan, rumah saudara yang menjadi tempat acara tersebut berada dekat dengan SD tempat saya sekolah dulu. Jadi, saya berangkat dan pulang dari acara tersebut melalui jalan yang saya lalui saat SD dulu. Makanya, saya sekalian saya bernostalgia sebentar sambil mengingat masa lalu.
Nah kebetulan, saya dulu bersekolah di SD yang letaknya cukup jauh dari rumah saya. Kira-kira, jaraknya sekitar 2-3 km. Jarak yang cukup jauh bagi anak SD saat itu. Mengapa orang tua saya menyekolahkan saya di sekolah yang jauh dari rumah? Apa tidak ada SD di dekat rumah?
Sebenarnya, di dekat rumah saya ada beberapa SD Negeri yang berdiri. Fasilitasnya pun juga cukup bagus. Namun, ada tradisi di keluarga besar saya yang harus dilakukan. Tradisi tersebut adalah menyekolahkan anak-anak tingkat SD di Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Tradisi ini sudah ada sejak kakek saya menyekolahkan anak-anaknya, termasuk ibu saya. Saat saya SD, kakek saya masih hidup dan beliau juga mewajibkan cucunya juga bersekolah di MI. tidak boleh sekolah di SD apalagi SD Negeri. Alasannya, mungkin agar bekal pengetahuan ilnu agama yang didapatkan bisa maksimal.
![]() |
SD saya dulu. Sekarang tampak mewah beda sekali pas saya sekolah. |
Apesnya, tidak ada MI yang ada di dekat rumah saya. Ada sih MI yang lebih dekat rumah tetapi saya tidak mau bersekolah di sana. Alasan utamanya karena sekolah tersebut memiliki hari libur berbeda dengan sekolah lain, yakni libur saat hari Jumat dan masuk saat hari Minggu. Sebagai anak kecil Generasi 90an yang hanya bisa menonton kartun di hari Minggu, tentu saya tidak mau dong.
Tidak hanya itu, sekolah tersebut hanya diisi satu gender yang sama, yakni hanya laki-laki. Sementara saya, saat SD entah kenapa kok lebih suka bermain dengan perempuan. Saya tidak mau sekolah di sana karena membayangkan satu kelas isinya murid laki-laki semua dan pasti banyak yang nakal. Makanya, ibu saya mencari sekolah MI yang libur di hari Minggu dan muridnya campur laki-laki dan perempuan.
Alhasil, saya pun bersekolah di MI tersebut bersama sepupu saya yang seumuran. Kami berangkat dan pulang bersama setiap hari. Kami menjadi murid yang rumahnya paling jauh saat itu karena saya ingat sekali tren menyekolahkan anak dengan jarak jauh belum banyak saat itu. Makanya, jika teman lain pulang dengan berjalan kaki atau naik sepeda, saya harus menunggu jemputan dari ayah atau Pakde - ayah dari sepupu saya - untuk pulang.
Apesnya, seringkali jam pulang sekolah lebih awal dari semestinya. Entah ada rapat guru atau ada acara lain yang membuat jam pulang sekolah lebih awal. Namanya anak kecil, tentu saya dan sepupu saya ingin sekali segera pulang. Lah teman-teman lain sudah pada pulang. Sekolah juga sudah sepi.
Agar bisa segera dijemput, saya dan sepupu sering menelepon di telepon umum yang berada kurang lebih 300 meteran dari sekolah. Kami berjalan kaki ke sana untuk menelepon orang rumah agar ada yang menjemput. Kadang, sepupu saya lebih suka main di rumah temannya sambil menunggu. Saya tidak mau ikut karena entah kenapa ingin segera pulang.
Telepon umum ini berada tepat di dekat perempatan jalan. Saat saya lewat di sana kemarin, barang tersebut sudah tak ada. Namun, saya bernostalgia dengan rumah berubin merah yang sering saya gunakan untuk duduk menunggu jemputan. Ternyata, rumah itu tidak berubah sejak saya masih SD!
![]() |
Dulu sering duduk di sini |
Saya masih ingat duduk bengong kadang sambil mainan Tazos menunggu ayah datang. Sesekali, saya melihat pengendara lewat siapa tahu ayah saya yang datang. Biasanya sih saya bilang kalau jemputnya di rumah tersebut, bukan di sekolah.
Malangnya, kadang ayah saya pergi keluar sehingga tidak ada orang di rumah. Telepon yang saya sambungkan tidak juga diangkat. Jika demikian, saya pun biasanya memutuskan berjalan kaki melewati jalan dekat sungai menuju rumah saya. Yah lumayan juga berjalan kaki hingga sampai rumah. Bisanya, nenek saya kaget tiba-tiba saya sudah pulang. Sambil menggendong adik saya yang masih bayi piyik, beliau kadang memijat kaki saya karena mungkin mengiranya capai.
![]() |
SD sebelah sekolah saya. Dulu kalau ada pelajaran olahraga lewat sini sering war saling ejek wkwkwk. |
Nostalgia ini membuat saya berpikir meski sudah lumayan canggih, tetapi masalah komunikasi masih menjadi penghalang bagi generasi 90an. Satu-satunya alat komunikasi yang bisa diandalkan ya hanya telepon. Pernah beberapa kali, jaringan telepon di rumah saya sedang diperbaiki dan saya sedang pulang pagi. Saya pun menunggu jemputan di sekolah sampai bosan.
Pengalaman paling tidak enak kalau sedang ada ekskul atau bimbel di sekolah sore hari dan kebetulan sekolah pulang pagi. Saya menunggu di sekolah dong sampai sore. Saking lamanya, saya sampai kehabisan akal untuk bermain apa saja. Saya masih ingat pernah sekolah pulanh pukul 9 pagi dan ada kegiatan ekskul mulai jam setengah 4 sore. Jadi. selama itu saya di sekolah mati gaya entah ngapain aja. Mau pulang juga malas dan kasihan yang jemput antar.
![]() |
Jalan kaki lewat sini |
Untungnya, tren menyekolahkan anak jauh dari rumah sudah banyak saat ini. Apalagi, jika banyak ortu yang lebih memilih kualitas pendidikan bagi anaknya. Tak masalah jauh asal anak dapat sekolah bagus. Di sekolah pun, anak sudah banyak teman untuk menunggu jemputan. Tidak seperti saya dulu yang masih jarang anak sekolah jauh.
Berbeda halnya dengan saat saya SMP yang sudah berani pulang sendiri. Meski harus jalan kaki cukup jauh, tapi banyak teman yang searah pulang. Saya jadi tidak merasa kesepian karena bisa bercerita dan main bareng.
Kalau kalian sendiri, termasuk tim yang menyekolahkan anak di sekolah yang dekat atau jauh dari rumah?
Tags
Catatanku
Dulu sekolah SD saya juga tergolong jauh, jalan kaki pula. saat itu sepeda masih benda elit.
ReplyDeleteTapi kini, SD tempat saya sekolah sudah tutup, karena kekurangan siswa
Iya ya, dulu sekolah swasta agama, jika hari jumat libur