![]() |
Hidup jadi WNI deritanya tiada akhir. |
Beberapa hari belakangan ini linimasa seakan belum habis dengan huru-hara negara.Tiap membuka medsos, terutama X alias twitter, rasanya negara ini siap bubar dan terpecah jadi 8 negara seperti Yugoslavia. Semua huru-hara sekaan benar-benar teprampang nyata dan mirip dengan saat 1998 yang juga diikuti dengan kelesuan ekonomi.
Nah, di tengah huru-hara ini, ada dua kejadian menarik yang patut disimak. Tak lain dan tak bukan adalah pengiriman kepala babi dan bangkai tikus ke kantor Tempo. Bahkan, pengiriman kepala babi ditujukan langsung kepada salah satu redaktur wanita yang sering menyuarakan isu-isu sensitif pada podcast bocor alus.
Tentu, kejadian ini menggegerkan publik. Sepanjang masa reformasi, baru kali ini pers benar-benar ditekan. Baru kali ini pers mendapatkan ancaman serius yang tidak main-main. Baru kali ini pula seakan kita hidup kembali di masa orde baru. Saat pengekangan terhadap kebebasan publik benar-benar dilakukan secara masif dan teratur.
Sejak majunya PS dan fufufafa sebagai pemimpin negeri ini akhir tahun lalu, rasanya tidak ada hal yang menyenangkan bisa dilihat. Berbagai isu dan skandal terus saja muncul menghantam publik. Yang terakhir, pengesahan RUU TNI yang sangat kontroversial benar-benar membuat publik mengelus dada.
Sayang, kebebasan dalam menyampaikan pendapat kini mulai benar-benar dibatasi. Pengiriman dua bangkai ke kantor Tempo seakan menjadi bukti bahwa kini kita memang dilarang untuk menyampaikan pendapat. Dilarang untuk bersuara dan mengkritik hal-hal yang tidak baik.
Dengan demikian, maka bisa dikatakan orde baru kini tumbuh lagi. Namun, dalam bentuk yang termodifikasi yakni siap print. Alasannya, kini zaman semakin canggih dan banyak cara dilakukan untuk membungkam siapa saja yang kontra. Pembungkaman tidak hanya sekadar dalam bentuk penekaanan semacam itu, tetapi dalam bentuk doxing.
Penekanan ini bertujuan menyebar informasi pribadi pengkritik sehingga mereka berpikir ulang untuk melakukan kritik. Beberapa akun sudah mulai mendapatkan ancaman doxing. Untungnya, mereka tetap tegar dan bersuara meski diancam seperti itu. Makanya, kini sebagai rakyat yang waras harus tetap hati-hati dan waspada dari berbagai ancaman tersebut. Salah satunya adalah menjaga kerahasiaan data pribadi sebaik mungkin.
Teror ini juga semakin meneguhkan ketakutan saya saat si PS berkuasa. Dulu, saya sangat skeptis dengan orang ini karena rekam jejaknya yang buruk pada saat transisi dari orde baru ke reformasi. Sayang, berbagai manuver politik membuat banyak orang terlena. Bahkan, ada yang sampai rela membela mati-matian meski mereka maju dengan cara kurang tepat.
Kini, nasi sudah menjadi bubur. Tugas kita adalah tetap berjuang menjaga demokrasi sampai titik darah penghabisan. Tugas kita adalah saling menjaga agar tidak terpecah sehingga tetap kuat dalam melawan berbagai kesewenang-wenangan. Tinggalkan saja mereka yang masih belum terbuka matanya.
![]() |
Mari saling jaga |
Meski banyak orang yang mengatakan orde baru enak karena hidup terjaga, tetapi tidak untuk saat ini. Lihat saja kondisi ekonomi yang makin suram dengan berbagai efisiensi anggaran dan korupsi merajalela. Belum lagi anjloknya bursa saham yang sangat mengkhawatirkan. Rasanya, tidak ada yang enak dengan bentuk orde baru yang akan kembali lagi.
Jadi, semua tergantung dari kita. Mau tetap kritis atau masih apatis.
Tags
Catatanku