Tempat Favorit Buka Puasa di Luar Rumah atau Kontrakan

Kalian buka puasa di mana saja??

Hingga akhir ramadhan kali ini, saya belum pernah sekalipun melakukan buka puasa bersama di luar rumah atau kontrakan.

Selain malas, saya tidak punya rekan kerja atau kenalan yang beragama Islam. Mayoritas rekan kerja saya beragama Kristen/Katolik. Jadi, ya mereka tidak puasa kecuali yang Katolik kemarin melakukan puasa Rabu Abu. Itu pun puasa pantangan tidak full seperti saya dan waktu berbukanya berbeda dengan saya.

Alhasil, saya tidak mendapat ajakan untuk bukber sama sekali. Saya sangat mensyukuri hal ini karena pengeluaran saya benar-benar bisa saya rem. Tak hanya itu, saya tak perlu riweh mengatur jadwal untuk bukber dan menentukan tempat untuk kegiatan tersebut.

Meski demikian, saya sering harus buka puasa di luar rumah/kontrakan karena waktu perjalanan yang mepet dengan waktu maghrib. Nah, biasanya, saya memilih untuk buka puasa di warung kopi/warkop dengan beberapa alasan.

Pertama, tempat ini memiliki banyak tempat duduk. Saya tidak harus berebut dengan pengunjung lain. Kedua. Tempat ini full wifi. Saya bisa menunggu berbuka puasa sambil berselancar di dunia maya atau membuat konten. Ketiga, tempat ini tidak melarang untuk membawa makanan dan minuman dari luar.

Warkop adalah tempat berbuka favorit


Saya bisa membawa makanan dari luar untuk berbuka tetapi masih membeli dari mereka. Biasanya, saya hanya membawa camilan dan membeli nasi bungkus plus minuman karena mereka tidak menjual camilan untuk takjil. Kalau ada kebanyakan gorengan dan untuk saat ini sebisa mungkin saya menghindarinya.

Jika sedang tidak menemukan warkop, maka saya biasanya memilih minimarket yang memiliki tempat duduk. Favorit saya tentu Family Mart (FM) karena ada beberapa menu takjil yang bisa saya beli dengan promo. Kalau tidak FM ya tentu Circle K dengan menu siomaynya yang lezat. Saya jarang buka puasa di Lawson karena menurut saya harga makanannya mahal. Jadinya, dua minimarket itu menjadi tempat favorit saya untuk berbuka puasa.

Sayangnya, tempat-tempat tersebut kini banyak diserbu oleh Gen Z yang juga ingin berbuka puasa sambil nugas. Kalau mepet waktu maghrib, saya sering tidak mendapatkan tempat. Pernah sekali saya dipinjami kursi oleh pegawai Circle K karena saya sudah kadung pesan camilan, tetapi tidak mendapatkan tempat tempat. Begitu pula Indomaret/Alfamart yang tempatnya selalu ramai dan saya kurang suka dengan menu snacknya.

Saya juga menghindari berkunjung ke mall untuk berbuka puasa karena pasti penuh. Hampir semua mall di Surabaya full pengunjung saat bulan puasa kali ini. Bahkan, rekan saya yang ngemall kemarin tidak dapat tempat duduk meski ia tak puasa. Lha wong jam 4 sore saja tempat makan sudah penuh. Akhirnya ia memilih ke tempat makan non-halal karena itu satu-satunya tempat makan yang masih sepi.

Beberapa waktu lalu, saya juga sempat berbuka puasa di halte Trans Semanggi. Mulanya, saya mau mencoba berbuka puasa di Delta Plaza. Barangkali ada satu tempat makan yang sepi. Lah memang ternyata semuanya full. Sampai-sampai ada satu resto yang biasanya sepi, saat saya datang penuhnya luar biasa.



Saya sempat menyesal mengapa tidak menuju warung soto di seberang Monkasel. Lantaran sudah mepet, akhirnya saya melipir ke Superindo dan membeli nasi ayam geprek seharga 16 ribu rupiah. Meski agak pricy, tetapi ukurannya lumayan besar.

Saya pun makan nasi tersebut di halte yang saat itu sangat sepi. Beberapa kali armada Trans Semanggi dan wira-wiri berhenti. Saya melambaikan tangan tanda jika saya tidak naik. Sopir dan helper pun tersenyum pada saya karena melihat saya sedang makan. Semoga mereka juga bisa berbuka karena kasihan juga kalau harus terus berada di jalan. Biasanya sih, mereka menepikan dulu armada di pinggir jalan untuk berbuka. Penumpang pun juga paham karena memang waktunya berbuka.

Berbuka puasa di halte. Kenapa tidak??


Selain beberapa tempat tersebut, ada satu tempat lagi yang bisa saya pilih untuk berbuka puasa di luar. Tak lain dan tak bukan adalah masjid. Saya bisa mendapatkan takjil dan makan gratis di sana. Lumayan kan buat berhemat di tengah kondisi ekonomi yang suram. Bahkan, ada beberapa masjid yang menu makannya melimpah ruah.

Saya dua kali buka puasa di masjid pada puasa kali ini dan alhamdulillah mendapatkan makanan berat semua. Ada satu masjid yang menyediakan menu nasi kotak dan satunya menu nasi soto. Saya memang tahu bahwa dua masjid itu menyediakan makanan hanya saja saya harus datang lebih awal untuk mendapatkan kupon. Saya juga pernah tiga kali ke masjid lain tapi tidak dapat makan karena datang telat. Jadinya saya hanya minta minum teh hangat dan gorengan. Yah lumayanlah buat takjil.

Tahun ini saya tidak pernah sekalipun buka puasa di dalam bus. Entah mengapa, saya merasa orang yang membagikan takjil jumlahnya semakin sedikit. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, saya sering mendapat takjil saat naik bus dan bahkan yang membagikan takjil sampai masuk ke dalam bus. Bisa jadi, kondisi ekonomi yang lesu adalah alasannya.

Kalau sedang kepepet lagi, biasanya saya ya buka puasa di tempat kerja. Di sini saya hindari karena seringkali saya sendirian dna yang lain sudah pulang. Tidak enak saja buka puasa sendirian di tempat yang cukup besar.

Nah, kalau kalian sendiri, di mana tempat favorit untuk berbuka puasa?

1 Comments

  1. buka puasa di halte adalah salah satu pengalaman terbaik :D

    ReplyDelete
Sebelumnya Selanjutnya