Momen Idulfitri; Momen Merusak Kesehatan Mental?


Tidak semua orang muslim - terutama di Indonesia - bahagia dengan adanya momen Idulfitri.

Meski momen ini adalah momen perayaan kemenangan setelah sebulan lamanya berpuasa, tetap saja momen ini menjadi momen yang tidak menyenangkan bagi sebagian orang. Terutama, orang dewasa yang belum memenuhi standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebagai orang yang “sukses”.

Fenomena ini seperti terdengar berlebihan, tetapi itulah kenyataannya. Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah utasan di Threads mengenai adanya sebuah kasus yang cukup memilukan, Jadi, ada seseorang yang harus masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) karena melewati momen lebaran dengan cukup memilukan.

Tidak hanya sekadar ucapan basa-basi, tapi juga hinaan yang membuat hati dan pikiran tidak tenang. Membuat hati marah dan overthinking parah akan masa depan. Ada juga salah seorang pengguna Threads memberi komentar bahwa tiap lebaran, tantenya mesti kambuh penyakit jantungnya gegara ucapan keluarga suaminya yang benar-benar di luar nalar.

Setiap akan silaturahmi, jantungnya berdebar keras dan tak jarang harus masuk ke UGD. Semua bermuara kepada omongan pedas yang mengganggu pikiran. Semua bermula dari pertanyaan basa-basi tetapi menjurus kepada mengapa seseorang tidak bisa mencapai KKM kesuksesan yang diukur oleh sebagian besar orang Indonesia. Seperti sudah menikah, punya anak, sudah punya pekerjaan mapan, rumah yang bagus, kendaraan yang wah, dan sederet prestasi lain yang bisa dijadikan alasan untuk disembah.

Saya sendiri sering mengalami pertanyaan kapan ini kapan itu dan mengapa begini dan begitu. Dulu sih sempat kesal. Namun, sekarang saya sudah berani “senggol bacok” meski di momen lebaran sekalipun. Entah, tiba-tiba saja mulut usil saya mengeluarkan kata mak jleb nan nylekit saat silaturahmi lebaran.

Semisal, ketika saya ditanya mengapa tubuh saya semakin gendut, saya menjawab ya alhamdulillah saya bahagia banyak uang. Namun, ketika komentar jelek muncul saya pun segera melakukan smash balik bahwa yang bersangkutan hidupnya miskin dan menyedihkan tidak mampu makan makanan enak. Beda level dengan saya. Alhasil, dia pun menahan malu karena saya mengatakan itu dengan nada meremehkan sambil makan kuaci.

Jadi, saya punya batasan kapan harus menanggapi dengan anggun layaknya Puteri Indonesia dan kapan harus menyerang balik. Meski momen lebaran, saya sih bodo amat. Tujuan silaturahmi kan saling memaafkan dan menambah keakraban. Ini kok malah adu mulut soal hal-hal yang tidak sesuai KKM kesuksesan.

Biasanya sih, mereka yang ribet dengan segala pertanyaan penghakiman adalah mereka yang belum bisa menerima dengan diri sendiri. Semisal, mereka yang ngebet bertanya kapan nikah adalah mereka yang pernikahannya tidak baik-baik saja. Mereka yang bertanya tentang pekerjaan yang bagus adalah mereka yang juga tidak begitu berhasil dalam pekerjaan. Atau pun jika mereka punya pekerjaan yang baik, seringkali mereka tidak bahagia dalam pekerjaannya. Jadi ya, untuk melampiaskan apa yang ada di hatinya, mereka pun bertanya dengan tidak enak kepada orang lain.




Makanya, saya cukup selektif untuk saat ini dalam silaturahmi. Saya lebih banyak datang ke saudara yang memang mengenal saya dengan baik. Kalau pun mereka bertanya, biasanya mereka akan mendoakan dengan harapan apa yang saya inginkan bisa terkabul. Saya sih tidak masalah jika ditanya dengan basa-basi karena setelah saya jawab mereka pun mendoakan saya. Itu yang paling penting.

Nah, jika ada pertanyaan horor sebenarnya bisa kita jawab untuk minta doa agar KKM kesuksesan yang belum kita capai bisa kita capai. Kalau orang yang bertanya punya hati baik, maka mereka akan mendoakan dan tidak menghakimi keadaan kita.

Di sisi lain, sebenarnya momen lebaran bisa jadi momen nostalgia kenangan masa lalu yang menyenangkan saat kumpul bersama. Momen ini sebenarnya bisa menjadi alasan utama untuk berkumpul. Jadi, ada kebahagiaan yang kembali terbangun. Momen ini juga bisa jadi momen untuk mendokumentasikan peristiwa sebaik-baiknya. Mumpung kumpul bersama, maka momen ini bisa jadi ajang untuk membuat kenangan dalam foto atau video yang bagus. Kapan lagi kan bisa sama-sama dalam satu frame?

Untuk itulah, daripada kita menambah beban perawat di RSJ pasca lebaran, lebih baik kita sadar bahwa momen lebaran seharusnya membahagiakan.

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya