Bangku Mana yang Jadi Favorit Saya saat Naik Bus?

Ilustrasi bangku bus

Naik bus sudah menjadi kebutuhan saya saat ini.

Hampir tiap hari, saya melakukan kegiatan ini untuk berpindah tempat. Tidak hanya berpindah tempat saja, saya juga melakukannya untuk membuat konten mengenai transportasi umum yang saya bagi. Pendek kata, naik bus adalah kegiatan yang tak terpisahkan dari diri saya.

Ada dua macam bus yang saya naiki. Pertama adalah bus reguler AKDP atau AKAP. kedua adalah Bus Raya Terpadu atau sering disebut sebagai BRT. Kedua bus ini memiliki perbedaan dalam hal susunan bangku penumpangnya.

Untuk bus reguler, pihak pengelola bus tidak membuat aturan khusus mengenai bangku penumpang. Asal semua bangku terisi, penumpang yang naik bus lebih dulu biasanya akan memiliki kesempatan untuk memilih tempat duduk favorit mereka. Biasanya, penumpang yang naik dari dalam terminal atau tempat terminus bus tersebut berjalan adalah mereka yang punya privilege dibandingkan penumpang lain.

Atas alasan itulah, saya selalu menyempatkan diri naik dari dalam terminal agar bisa memilih tempat duduk sesuai dengan keinginan saya. Biasanya, jika saya naik bus ekonomi ATB, maka favorit saya adalah tempat duduk yang tidak terkena cahaya matahari secara langsung.

Semisal, jika saya naik saat pagi menjelang siang saat matahari berada di sisi timur, maka saya menghindari tempat duduk di bagian tersebut. Contohnya, jika saya naik dari Malang menuju Surabaya, maka saya lebih memilih naik di deretan bangku dengan 2 penumpang. Alasannya, jika saya duduk di bangku dengan 3 penumpang, maka saya akan terkena cahaya matahari secara langsung. Saya tidak bisa melihat pemandangan indah sepanjang jalan tol karena terhalang tirai.

Selain itu, biasanya saya memilih tempat duduk di bagian tengah. Saya menghindari untuk duduk di bangku paling depan atau deretan depan. Saya tidak mau melihat kendaraan di depan bus secara langsung. Sudah rahasia umum sopir bus ekonomi ATB cukup ugal-ugalan jika berkendara di jalan tol. Mereka sering menyalip kendaraan dari bahu jalan yang sebenarnya dilarang. Pernah sekali saat saya duduk di bangku depan, tiba-tiba bus mengerem mendadak dan hampir menabrak truk tronton.

Rasanya mak deg ser jantung ini berdebar. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sejak saat itu, kalau sedang naik bus ekonomi ATB, saya tidak mau lagi duduk di bagian depan. Toh saya juga tidak pernah berniat untuk ngonten karena waktu saya lebih banyak digunakan untuk istirahat atau tidur.

Tentu, saya juga menghindari duduk di bangku paling belakang karena guncangan hebat yang terjadi. Maklum, bagian belakang adalah tempat dari roda bus berputar. Saya sering mual jika duduk di bagian ini. Apesnya, jika saya kesiangan datang di terminal dan harus segera berangkat, maka saya pun mau tak mau mendapatkan bangku di bagian paling belakang ini.

Bagian belakang bus

Uniknya, entah mengapa banyak sekali penumpang yang malah suka duduk di bagian belakang bus. Padahal, bagian depan dan tengah bus masih banyak bangku yang kosong. Bahkan, pernah ada sebuah kejadian unik yakni semua penumpang yang naik berbondong-bondong menuju bagian belakang. Saking banyaknya, kondektur bus meneriaki mereka agar maju ke bagian depan yang masih kosong.

Bagaimana dengan BRT?

Berbeda dengan bus reguler, BRT memiliki aturan tersendiri dalam menyusun penumpang. Pengelola BRT biasanya mengelompokkan penumpang menjadi 3 jenis, yakni penumpang khusus, penumpang wanita, dan penumpang pria. Tentu, saya tidak bisa duduk di bangku penumpang khusus karena merupakan hak penumpang lansia, disabilitas, dan ibu hamil. Saya juga tidak bisa duduk di deretan bangku penumpang wanita.

Perlu diketahui, ada dua macam BRT yang membagi bangku untuk pria dan wanita. Ada BRT yang mengelompokkan penumpang pria pada bagian depan seperti Trans Semarang dan Trans Jateng. Ada pula BRT yang mengelompokkan penumpang pria di bagian belakang seperti Suroboyo Bus, Trans Semanggi, dan Trans Jatim.

Tentu, karena hobi saya membuat konten naik BRT, maka saya lebih suka duduk di bagian depan. Makanya, saya sangat menikmati proses membuat konten Trans Semarang atau Trans Jateng karena saya bisa duduk di bagian paling depan yang dekat dengan sopir. Saya bisa menangkap gambar dengan jelas apa saja yang terjadi di jalan raya.

Tempat duduk untuk penumpang pria di bagian depan

Walau demikian, ketika harus terpaksa duduk di bagian belakang, saya juga masih menikmati naik bus sambil membuat konten. Biasanya, saya memilih duduk di bagian paling belakang. Bagian ini saya pilih karena saya bisa merekam dengan leluasa tanpa terganggu aktivitas naik turun penumpang. Saya juga bisa lebih jelas merekam suasana di jalan raya dan di dalam bus sehingga konten yang saya hasilkan bisa maksimal.

Tempat duduk untuk penumpang pria Suroboyo Bus di bagian belakang

Sayangnya, bagian belakang ini memiliki kelemahan yakni cukup sempit. Apalagi, pada beberapa BRT seperti Suroboyo Bus dan Trans Semanggi, ada 5 bangku di bagian belakang. Berbeda dengan bagian depan yang hanya diisi oleh 4 bangku saja. Tidak hanya itu, seringkali ada APAR yang terpasang di bagian belakang ini. Kebayang kan sempitnya?

Kalau tidak sedang ngonten, 3 bagian dari belakang bus adalah favorit saya. Saya merasa bagian ini lebih lega sehingga saya bisa sedikit selonjoran. Kelemahan dari bagian ini adalah adanya sticker yang menutupi kaca sehingga pandangan saya terbatas dan terhalang.

Kursi favorit saat tidak ngonten



Ada kegiatan unik yang sering terjadi saat naik beberapa BRT yang memiliki kursi prioritas di bagian belakang. Kursi ini jarang sekali dipakai oleh mereka yang memang membutuhkan. Alhasil, kursi ini pun diduduki oleh penumpang pria yang tak kebagian tempat duduk. Kadang, saking penuhnya bus, para penumpang pria sampai ngemper di bagian ini asal bisa terangkut dan duduk.

Bagian belakang tempat penumpang khusus

 

Padahal, sebenarnya bagian ini cukup berbahaya karena saat sopir bus melakukan pengereman secara mendadak, maka penumpang akan terpental. Keamanan penumpang di bagian ini tidak seaman di bagian lain. Saya masih heran mengapa beberapa bus seperti Trans Banyumas, Batik Solo Trans, dan Trans Jatim masih menggunakan model ini.

Nah, kalau Anda sendiri, bangku mana yang menjadi favorit saat naik bus?

1 Comments

  1. kalau saya tuh paling demen ya pasti paling depan. dulu sempat suka paling belakang, tapi kalau di belakang tuh ada ngelewatin polisi tidur bisa lompat jadinya :D

    ReplyDelete
Sebelumnya Selanjutnya